BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test bannerSELAMAT DATANG DI WEBSITE "RATU PRABU NEWS"

Ekoregion Adalah Peta Yang Menggambarkan Persamaan Sifat Dari Permukaan Bumi


Padang,  ratuprabunews. com - Direktorat Penyelenggara Sumber Daya Alam Berkelanjutan (Dit.PSDAB) Deputi Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, pada Jumat (21/8/2026) menggelar kegiatan Inhouse Training, Media Briefing: Kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup Bersama UI, UGM, dan UNAND Dalam Rangka Memperkuat Pemulihan Pasca Bencana Sumatera Barat Berbasis Ekoregion, bertempat di The ZHM Premiere Hotel Padang.             

Tim kegiatan inhouse training ini terdiri dari: 10 Tim Inventarisasi dan Verifikasi Biofisik UGM, 10 Tim Inventarisasi dan Verifikasi Sosial- Budaya UI,  dan 40 Tim Inventarisasi dan Verifikasi Biofisik dan Sosial-Budaya UNAND.

Kegiatan inhouse training ini mengangkat tema subheadline: pendekatan berbasis ekoregion digunakan untuk memperkuat informasi lingkungan dalam mendukung kajian pemulihan, termasuk kebutuhan Hunian Sementara dan Hunian Tetap. Adapun Narasumber kegiatan ini diantaranya, dari Kementerian Lingkungan Hidup: Hamdan Syukri Batubara, S.Kom., M.Si (Inspektur I Kementerian Lingkungan Hidup),  dan Dr.  Hariani Samal, S. Hut., M.Si (Direktur Penyelenggaraan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Deputi Bidang Tata Lingkungan Sumber Daya Alam Berkelanjutan).        

Menghadirkan Pakar dan Akademisi, yaitu Pertama, Prof. Dr. rer. nat. Junun Sartohadi, M.Sc (Kepala Pusat Studi Pengelolaan Sumber Daya Lahan, Universitas Gadjah Mada). Kedua, Ir. Muhammad Nasir, ST, MT, PhD (Wakil Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Andalas). Ketiga, Dr. Roemantyo (Pakar Ekologi, BRIN). Keempat, Dr. Budi Cahyono (Pakar Geologi, IPB). Kelima, Dr. Sofyan Cholid, S. Sos., M.Si (Pakar Kesejahteraan Sosial, Universitas Indonesia). Keenam, Dr. Edwin Maulana, S.Pd., M.Sc (Pusat Studi Pengelolaan Sumber Daya Lahan, UGM). Ketujuh, Ami Sukma Utami, M.Sc., PhD (UNAND). Kedelapan, Hairul Anwar, S.Sos., MS (UNAND). Kesembilan, Nariyah Dzakiyyah, ST (UNAND). Kesepuluh, Khofiyana Putri Widyaningrum, S.Si (Tim Pakar Kesejahteraan Sosial, UI), dan Kesebelas, Gaza Adissa Rachma (Tim Pakar Kesejahteraan Sosial, UI).                                         

Menurut salah seorang narasumber yang juga salah satu pakar yang melahirkan Ekoregion, Dr. Budi Cahyono dari Pakar Geologi, IPB kepada awak media 'ratuprabunews' mengatakan, tujuannya kegiatan inhouse training ini jelas, inventarisasi dan verifikasi lingkungan hidup pada ekoregion. Ekoregion itu dibuat setelah UU Lingkungan Hidup 2009 itu sudah disahkan. Tahun 2010 itu, semua akademisi dan rhole kementerian berkumpul untuk merumuskan, yang disebut ekoregion itu apa? Nah,  akhirnya pada tahun 2013 sudah bisa menerbitkan buku ekoregion dan petanya.                           

"Ekoregion adalah peta yang menggambarkan suatu bagian dari permukaan bumi  yang memiliki karakteristik yang relatif seragam. Fisiknya. Fisik itu bisa bentuk permukaan buminya, seperti bukit datar,  atau lembah atau apapun namanya, dan juga vegetasi nya yang ada di masing-masing unit lahan. Lahan itu yang saya katakan tadi sebagai permukaan bumi, bukit, lembah,  gunung, memiliki karakter masing-masing. Oleh karena itu, diatas lahan tadi muncul atau tumbuh vegetasi dan juga satwa. Flora faunanya yang beda antara satu bentuk lahan ke lahan yang lain, " katanya.                               

Jadi, Budi Cahyono lebih jauh menjelaskan, ekoregion adalah peta yang menggambarkan persamaan sifat dari permukaan bumi. Itu merupakan informasi yang sangat mendasar kepentingan lain, seperti pemetaan ruang, indikasi bencana dan yang lainnya, itu sangat membutuhkan data ekoregion. Karena itu merupakan informasi sangat mendasar, supaya mengetahui karakteristik permukaan bumi. Karena dalam pengelolaan suatu lingkungan itu, karakteristik itu sangat dibutuhkan. Jadi jangan sampai kita menanam pohon untuk reboisasi, jenisnya tidak cocok dengan yang akan di reboisasi. 


Dan kalau kita sama nanti bisa menimbulkan bencana. Jadi ekoregion merupakan informasi dasar sudah dipetakan di seluruh Indonesia, step by step kita kunjungi ke lapangan unit-unit ekoregion tadi dan kemudian kita menambah inventarisasi informasi lingkungan yang belum dapat. Nah dengan demikian, dengan adanya verifikasi dan inventarisasi ini, lingkungan hidup kita semakin komplek," ujarnya. Pemulihan pasabencana tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali infrastruktur dan hunian, tetapi juga memerlukan pemahaman menyeluruh mengenai kondisi lingkungan hidup pada wilayah terdampak.  Kondisi bentang alam,  ekosistem, sumber daya alam, fungsi lingkungan hidup, risiko bencana, hingga karakteristik sosial dan budaya masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan proses pemulihan berlangsung secara aman, berkelanjutan,  dan sesuai dengan karakter wilayah.                   

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup melalui Direktorat Penyelenggaraan Sumber Daya Alam Berkelanjutan melaksanakan inventarisasi dan Verifikasi  Lingkungan Hidup pada Wilayah Ekoregion untuk mendukung Kajian Pascabencana di Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan dilaksanakan melalui Kolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Andalas (UNAND).Kegiatan ini menggabungkan pendekatan ilmiah,  data spasial, dan verifikasi langsung di lapangan untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang kondisi lingkungan di wilayah yang sedang dipulihkan pascabencana.        

Dalam prosesnya digunakan pendekatan Ekoregion, yaitu cara memahami suatu wilayah berdasarkan kesamaan kondisi alamnya,  seperti iklim,  bentuk dan jenis lahan, keberadaan flora dan fauna, serta bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan tersebut.  Dengan  pendekatan ini, pemulihan dapat disesuaikan dengan kemampuan, tingkat kerentanan, dan fungsi lingkungan di masing-masing wilayah, sehingga hasilnya lebih tepat dan berkelanjutan. 

Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memastikan tersedianya lahan untuk pembangunan kembali. Kita perlu memahami apakah ruang yang dipilih sesuai dengan karakter lingkungan, bagaimana fungsi ekosistemnya,  bagaimana risikonya, serta bagaimana ruang tersebut mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat.        Inventarisasi dan verifikasi dilakukan melalui 2 (dua) kelompok kegiatan utama di 14 Kabupaten/Kota,  yaitu verifikasi biofisik dan verifikasi sosial budaya.                       

Verifikasi Biofisik dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi aktual bentang alam dan sumber daya lingkungan,  termasuk kondisi topografi, tanah, geologi, hidrologi, tutupan lahan, vegetasi, ekosistem, serta berbagai faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kesesuaian dan keberlanjutan pemanfaatan ruang.Sementara itu, Verifikasi Sosial Budaya, dilakukan untuk memahami bagaimana masyarakat memanfaatkan dan berinteraksi dengan ruang hidupnya.                 

Aspek yang diperhatikan, mencakup pola permukiman,  aktivitas masyarakat,  mata pencarian, kondisi sosial budaya, nilai dan pengetahuan lokal,  serta berbagai bentuk keterikatan. masyarakat terhadap lingkungan.  Kedua pendekatan tersebut diperlukan karena  lingkungan hidup  tidak hanya dipandang sebagai ruang fisik, tetapi sebagai ruang hidup yang mempertemukan sistem ekologis dengan kehidupan masyarakat.             

Pendekatan berbasis eko Region memberikan kerangka untuk memahami bahwa setiap wilayah memiliki karakter dan fungsi lingkungan hidup yang berbeda. Kawasan pesisir,  dataran rendah, daerah aliran sungai, perbukitan, hingga kawasan pegunungan memiliki kondisi biofisik dan tingkat sensitivitas lingkungan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pengelolaan yang berbeda pula. Melalui inventarisasi dan verifikasi lapangan, data lingkungan yang tersedia dapat diperiksa kembali dengan kondisi aktual. Proses ini menjadi penting karena kondisi wilayah dapat mengalami perubahan akibat bencana, aktivitas pemanfaatan ruang,  maupun dinamika lingkungan lainnya.                     

Hasil verifikasi selanjutnya diharapkan dapat memperkuat basis informasi lingkungan,  dalam kajian pemulihan pascabencana, termasuk dalam mendukung penilaian kesesuaian ruang untuk kebutuhan Hunian Sementara (Huntara)  dan Hunian Tetap (Huntap). Data lingkungan tidak dimaksudkan untuk menjadi satu-satunya dasar penentuan lokal Huntara dan Huntap. Informasi tersebut menjadi salah satu komponen penting yang dapat digunakan bersama dengan informasi kebencanaan,  tata ruang, aksesibilitas,  kondisi sosial masyarakat, serta pertimbangan teknis lainnya dalam proses pengambilan keputusan.                 

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan Perguruan Tinggi untuk memperkuat pendekatan multidisiplin, dan memastikan proses inventarisasi serta verifikasi didukung oleh kompetensi akademik dan pengetahuan berbatas wilayah.  Universitas Gadjah Mada (UGM) berkontribusi dalam penguatan kajian dan verifikasi aspek biofisik lingkungan, sementara Universitas Indonesia (UI) memperkuat pendekatan sosial dan sosial-ekologis. Universitas Andalas (UNAND) berperan penting dalam mendukung kajian berbasis konteks lokal Sumatera Barat, termasuk pelaksanaan verifikasi dan pemahaman terhadap karakter wilayah.                             

Kolaborasi antara pemerintah dan Perguruan Tinggi  diharapkan dapat menghasilkan informasi lingkungan yang lebih komprehensif, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.Kegiatan inventarisasi dan verifikasi lingkungan hidup menjadi bagian dari upaya memperkuat proses pemulihan pascabencana berbasis informasi dan ilmu pengetahuan.  

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi yang memiliki kesesuaian ekologis dan sosial, sekaligus menghindari munculnya tekanan atau risiko lingkungan  baru akibat proses pembangunan kembali. Dengan demikian, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada "membangun kembali",  tetapi diarahkan pada  membangun kembali dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan hidup dan keberlanjutan ruang hidup masyarakat."           

Hasil kegiatan diharapkan menjadi salah satu basis informasi bagi pemerintah dalam menyusun arahan dan rekomendasi pengelolaan wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat, sekaligus memperkuat penerapan pendekatan ekoregion dalam pengelolaan lingkungan hidup dan perencanaan pemulihan wilayah.  **

(Yefriando)**

Posting Komentar

0 Komentar