Padang, ratuprabunews ||Suasana hangat penuh kebersamaan terasa begitu kental di Gedung LKAAM Sumatera Barat, Sabtu (28/3/2026) bertepatan dengan 1447 Hijriah. Perguruan Silat Pat Ban Bu (Empat Banding Budi) menggelar Halal Bihalal yang mempertemukan pimpinan, pengurus, hingga anggota dari berbagai daerah dalam satu semangat kebangkitan.
Kegiatan ini tidak sekadar ajang silaturahmi biasa, tetapi menjadi momentum penting untuk menyatukan visi besar membangun kembali kejayaan Perguruan Silat Pat Ban Bu di Ranah Minang. Dengan mengusung tema “Halal Bihalal Saat yang Tepat untuk Pat Ban Bu Bangkit”, acara ini dihadiri perwakilan dari 20 cabang yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau.
Ketua Umum Pat Ban Bu, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si, Datuak Sati, tampil penuh semangat saat menyampaikan arah besar perguruan ke depan. Dalam keterangannya kepada awak media, ia menegaskan bahwa momentum Halal Bihalal ini menjadi titik awal menghidupkan kembali peran strategis silat dalam membentuk karakter generasi muda.
Menurut tokoh yang akrab disapa Bang Fauzi tersebut, kebangkitan Pat Ban Bu sejalan dengan program pemerintah daerah dan kepolisian dalam memerangi berbagai persoalan sosial yang meresahkan, seperti tawuran, balap liar, penyalahgunaan narkoba hingga penyimpangan perilaku generasi muda.
Ia menekankan bahwa solusi dari berbagai persoalan tersebut tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga pembinaan karakter sejak dini. Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah memasukkan pelatihan silat kepada anak-anak usia sekolah dasar di Kota Padang.
“Ke depan, kita ingin semua anak SD di Kota Padang bisa belajar silat. Bukan hanya Pat Ban Bu, tetapi seluruh aliran silat Minangkabau. Jangan sampai warisan ini hilang, istilahnya guru mati, ilmu ikut terkubur,” ungkapnya.
Lebih jauh, Fauzi Bahar menggambarkan bagaimana pembinaan sejak dini akan membentuk generasi yang tangguh, berkarakter, dan berprestasi. Ia optimistis, jika dimulai dari tingkat SD dan berlanjut ke SMP, maka akan lahir generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara mental dan moral.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengenang pengalamannya saat menjabat sebagai Wali Kota Padang, khususnya ketika menggagas kebijakan penggunaan jilbab bagi pelajar. Kebijakan itu sempat menuai penolakan besar di awal, bahkan hingga 85 persen masyarakat saat itu tidak mendukung.
Namun seiring waktu, kebijakan tersebut justru membawa dampak luas, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Fauzi Bahar menyebut, industri jilbab berkembang pesat hingga menciptakan perputaran ekonomi yang sangat besar serta membuka banyak lapangan pekerjaan.
“Yang awalnya ditolak, akhirnya menjadi kekuatan besar. Inilah bukti bahwa ketika sesuatu yang baik kita perjuangkan, hasilnya akan luar biasa,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, Ketua Harian Pat Ban Bu, Ir. H. Azhar Latif, menjelaskan bahwa kegiatan Halal Bihalal ini juga menjadi ajang konsolidasi antar cabang. Pertemuan ini dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi serta menyatukan langkah dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi ke depan.
Ia menegaskan bahwa Pat Ban Bu bukan sekadar perguruan silat biasa, tetapi merupakan perpaduan dari berbagai disiplin beladiri seperti silat, karate, judo, dan tinju yang diramu menjadi satu kesatuan yang utuh. Meski demikian, perguruan ini tetap berada di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
Azhar Latif juga mengungkapkan rencana besar pembangunan padepokan silat di kawasan Gunung Pangilun, Kota Padang. Lahan seluas kurang lebih seribu meter persegi yang disiapkan akan menjadi pusat latihan sekaligus pusat pembinaan generasi muda Pat Ban Bu ke depan.
Menurutnya, arah pengembangan perguruan saat ini lebih difokuskan pada penguatan silat tradisional sebagai warisan budaya, tanpa mengesampingkan silat prestasi yang kerap dipertandingkan di tingkat nasional maupun internasional.
“Silat itu bukan hanya olahraga, tetapi juga identitas budaya. Kita ingin nilai-nilai tradisi tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan generasi muda,” tuturnya.
Sekilas, Perguruan Silat Pat Ban Bu (Empat Banding Budi) didirikan oleh H. Makmur Hendrik, seorang tokoh silat terkemuka yang pernah menjadi pengurus IPSI Sumatera Barat. Berbasis di Kota Padang, perguruan ini dikenal konsisten menjaga nilai-nilai luhur budaya Minangkabau melalui seni beladiri.
Selama perjalanannya, Pat Ban Bu telah aktif menjalin hubungan dengan berbagai perguruan silat lainnya serta turut berkontribusi dalam berbagai kegiatan pembinaan dan pelestarian budaya di Sumatera Barat.
Halal Bihalal tahun ini pun menjadi penegas bahwa Pat Ban Bu tidak hanya ingin bertahan, tetapi bangkit dan mengambil peran lebih besar dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berbudaya, dan berprestasi di masa depan.
Catatan Redaksi: Kegiatan Halal Bihalal Perguruan Silat Pat Ban Bu menjadi momentum strategis dalam memperkuat konsolidasi organisasi serta menghidupkan kembali peran silat sebagai benteng moral generasi muda di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Yefriando

0 Komentar